Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 November 2013

Australia dan Revolusi Indonesia: Margaret George



Judul: Australia dan Revolusi Indonesia
Penulis: Margaret George
Penerbit: PT. Pantja Simpati
Cetakan I: 1986
Kategori: Sejarah
Tebal: 347 hlm.
Kondisi: Stok lama (cukup)
Harga: 20.000

Perjuangan kemerdekaan Indonesia merupakan awal percobaan terhadap kemampuan Australia untuk menghadapi perubahan di negara-negara yang paling dekat dengan pantainya. Sebelum Perang Dunia II, sebagian besar Asia dikendalikan oleh salah satu kekuatan Eropa. Setelah perang, India, Pakistan, dan Birma memperoleh kemerdekaan. Di Indo-China Prancis dan Hindia Belanda, nasionalisme yang baru bangkit mencari kebebasannya. Dalam hal Indonesia, sebuah resolusi Australia di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menuntut intervensi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sikap independen buruh pelabuhan Australia, yang menolak untuk memuati kapal yang menuju Indonesia, memperlihatkan suatu segi simpati yang lain terhadap perjuangan Indonesia. Dari tahun 1947 sampai tahun 1949, Australia, sebagai anggota UNGOC (Komisi Tiga Negara), yang kemudian disebut UNCI (Komisi PBB untuk Indonesia), memperoleh pengalaman diplomatik tentang Asia yang baru.

Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah: Michael H. Hart



Judul: Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah
Penulis: Michael H. Hart
Penerbit: Pustaka Jaya
Cetakan VIII: 1986
Kategori: Sejarah & Biografi
Kondisi: Stok Lama Bagus (Hard cover)
Harga: 50.000

Siapakah yang paling berpengaruh dalam sejarah? Hart menyusun daftar urut (ranking) seratus tokoh dengan argumen yang meyakinkan, tapi juga mengundang perdebatan.

Apa alasan Hart menempatkan Nabi Muhammad pada ranking pertama? Mengapa pula Nabi Isa menempati ranking ke-3, sedangkan Isaac Newton ranking ke-2? John F. Kennedy termasuk ke dalam seratus tokoh, tapi mengapa Mahatma Gandhi tidak? Siapa yang lebih be
rpengaruh, Karl Marx atau Kong Hu-cu? ‘Umar bin Khattab atau Alexander yang Agung?

Seratus Tokoh penuh dengan argumentasi, penuh pula dengan humor, diterjemahkan dengan gaya kocak Mahbub Djunaidi.

Dan inilah antara lain pendapat pers:

Keseratus bahasan riwayat hidup ini mudah dicerna, singkat-padat dan tajam; sedang bukunya sendiri akan merupakan tambahan yang berharga bagi lemari referensi pembaca.—Roger Bonham, dalam Columbus Dispatch.

Cara Hart menempatkan kedudukan seseorang tampaknya seperti keterlaluan bagi sementara orang…, tapi buku ini merangsang pikiran dan sangat mengasyikkan. –Douglas Cox, dalam Los Angeles Times.

Buku Hart, di samping merupakan rangkuman sejarah dunia yang bermanfaat, juga merupakan sumber perdebatan sengit yang tak akan ada habisnya. –Detroit Free Press

NONPRI DI MATA PRIBUMI: H. Junus Jahja



Judul: NONPRI DI MATA PRIBUMI

Penyunting: H. Junus Jahja

Penerbit: Tunas Bangsa

Kategori: Kumpulan Tulisan

Kondisi: Stok Lama (cukup)

Harga: 45.000



Pribumi Kuat, Kunci Pembauran



Para penulis buku-buku mengenai etnik Cina di Indonesia kebanyakan sesama nonpri, bahkan banyak orang-orang asing dari dunia Barat. Sedangkan mengenai permasalahannya, mayoritas bangsa Indonesia yaitu si pribumilah yang pada dasarnya paling menentukan (decisive). Buku “Nonpri di mata Pribumi” ini adalah komplikasi pandangan sekitar 50 tokoh pribumi tentang etnik Cina. Nonpri dalam masyarakat Indonesia dan dunia bisnisnya. Mencakup karya-tulis dan pandangan sejak tahun 1945 hingga kini, yang seyogianya diketahui sebanyak mungkin orang Indonesia termasuk yang nonpri.

***

Apakah sebenarnya hidup di kalangan pribumi itu dan pandangan-pandangannya yang patut diamati secara seksama? Ini penting bagi semua pihak antara lain kalangan bisnis, baik yang raksasa (konglomerat nonpri) maupun yang baru mulai. Antara lain dalam rangka menyusun “business strategy” yang setepat-tepatnya.



***

“…. Orang seperti Sindhunatha, Kwik Kian Gie, Junus Jahja, dan sebagainya itu telah menyatukan diri dalam kehidupan berbangsa. Tokoh-tokoh ini harus banyak berdialog dengan nonpribumi lainnya, untuk memberi pemahaman tentang kehidupan berbangsa.” (Rusdy Hamka, Ketua PP Muhammadiyah dalam Kompas, 3 Mei 1991)



Buku H. Junus Jahja ini sekiranya dapat berfungsi sebagai dialog termaksud. Apalagi penulis/editornya berkonklusi, “pribumi kuat kunci pembauran”! Seperti dikemukakannya pula dalam Warta Ekonomi 27 Mei 1991.

(Pemikiran & penulis: *Bung Karno *Bung Hatta *Pak Harto *Abdurrahman Wahid *Ali Moertopo *Assaat *Ayub Sani Ibrahim *Basuki Rachmat *R.H.S. Bratanata *Burhan Magenda *Djafar H. Assegaf *Dorodjatun Kuntjoro - Jakti *Emil Salim *Fahmi Idris *Goenawan Mohamad *Hamid Algadri *Hamka *Hasyim Ning *Jakob Oetama *Jusuf Wibisono *Koentjaraningrat *Leila Ch. Budiman, Mahbub Djunaidi *Masmimar Mangiang *Mochtar Lubis *L.B. Moerdani *A.H. Nasution *Nurcholis Majid *Radius Prawiro *Ridwan Saidi *Roeslan Abdulgani *Rosihan Anwar *Rudini *Sarlito W. Sarwono *Sayidiman Suryohadiprojo *Sayuti Melik *T.B. Simatupang *Siswono Yudohusodo *Sitor Situmorang *Soebagijo I.N *Soemantri Brodjonegoro *Soemitro *Sri Edi Swasono *Syamsurizal *St. Takdir Alisjahbana *Umar Kayam *Winarno Zain *Yahya A. Muhaimin)

Lima Serpihan Moral: Umberto Eco



Judul: Lima Serpihan Moral
Penulis: Umberto Eco
Penerjemah: Eka Kurniawan dan Elpiwin Adela
Penerbit: Jendela
Cetakan I: 2002
Kategori: Kumpulan Esai
Kondisi: Stok Lama (cukup)
Harga: 30.000

Fungsi intelektual tidak berarti melepaskan diri dari moralitas. Adalah suatu keputusan moral ketika kita meletakkan fungsi tersebut ke dalam praktik, sebagaimana keputusan moral yang mendorong tabib memotong daging segar untuk menyelamatkan suatu kehidupan. Namun ketika datang saatnya memotong, sang tabib tidak boleh mengalah pada emosi, bahkan ketika ia memutuskan untuk menutup sayatan sebab tidaklah patut membawa emosi ke meja operasi. Fungsi intelektual juga bisa dibawa secara emosional menuju hasil yang kuat, sebab pada saat-saat semacam itu masalah-masalah harus diselesaikan justru dengan memperlihatkan bahwa masalah-masalah itu tak dapat diselesaikan. Mengemukakan kesimpulan sendiri—ataupun tetap membisu (barangkali dengan harapan kesimpulan itu salah), merupakan suatu keputusan moral. Hal itu merupakan drama yang, bahkan untuk seketika, berasal dari tugas yang bersifat “mewakili umat manusia”. –Renungan atas Perang.