Sabtu, 12 Oktober 2013

Cerita, Sosok, Kota (Jurnal Cerpen Edisi 11)


Judul: Cerita, Sosok, Kota (Jurnal Cerpen Edisi 11)
Penulis: Hamsad Rangkuti, dkk
Penerbit/Tahun: Akar
Kategori: Cerpen
Harga: 28.000

K.I. Junandharu – Nurul Hanafi – Emil Akbar – Benny Arnas – Imam Muhtarom – Zulkarnaen Ishak – Aguk Irawan – Hamsad Rangkuti

Panggung Muda Cerpen Indonesia (Jurnal Cerpen Edisi 10)


Judul: Panggung Muda Cerpen Indonesia (Jurnal Cerpen Edisi 10)
Penulis: Sunli Thomas Alexander, dkk.
Penerbit/Tahun: Akar
Kategori: Cerpen
Harga: 45.000

Fahruddin Nasrullah – Wa Ode Wulan Ratna – Kadek Sonia Piscayanti – Fina Sato – Hasan Al Banna – Nurul Hanafi – Azizah Hefni – Yuni Kristianingsih – Dyah Merta – Sandi Firly – Sunlie Thomas Alexander – Achmad Muchlis Amrin – Dalih Sembiring – Mahwi Air Tawar – Pandapotan MT Siallagan – Ragdi F Daye – Hendra Kasmi – Jusuf AN – Bramantio

Ratusan Mata di Mana-mana (Jurnal Cerpen Edisi 09)


Judul: Ratusan Mata di Mana-mana (Jurnal Cerpen Edisi 09)
Penulis: Martin Aleida, dkk
Penerbit/Tahun: Akar
Kategori: Cerpen
Harga: 35.000

Yanusa Nugroho – Frans Nadjira – Shiho Sawai – Gde Agung Lontar – Harris Effendi Thahar – Mezra E. Pellondou – Herry Sudiono – Fahruddin Nasrullah – Zulkarnaen Ishak – Kiswondo

Mata Air Akar Pohon: Nur Wahida Idris


Judul : Mata Air Akar Pohon
Penulis : Nur Wahida Idris
Penerbit/Tahun : SIC/2008
Halaman : 100
Kategori : Puisi
Harga : 23.000







aku terikat oleh kelahiran
kau terikat air susuan
membiru dan mengalir di sungai-sungai
dengan tebing-tebingnya
yang selalu mengucapkan
selamat tinggl…

tapi sebagai akar penyangga tebing
aku telah mencecap ngilu arusmu
menggesek kusut jalan
memeluk batu-batu

tak kutahu mengapa kita terpisahkan begitu jauh
bahkan bagaimana rupa bulakan
yang dulu menyatukan kita
hingga aku pun merasa asing
untuk meraba tubuh sendiri
mencari kepedihanmu, sayatan di tubuhku
saat kita dipisahkan

jika pun kini sebagai akar
aku juga terikat air susuan
meradang sendiri mencari celah
merambati tebing-tebing yang curam
mencari tahu jalan
bagaimana kita dipertemukan dulu

sebagai akar yang menyimpan air
untuk menumbuhkan pohon baru
kukhayati takdirmu
bagi pertemuan kita yangkekal
merembesi tebing-tebing
menggiring sungai
ke asalnya…

Gema Secuil Batu: Iswadi Pratama


Judul : Gema Secuil Batu
Penulis : Iswadi Pratama
Penerbit/Tahun : Akar
Halaman : -
Kategori : Puisi
Harga : 23.000

Seperti melempar secuil batu ke dalam kola, begitulah aku menulis puisi. Menangkap sesuatu yang sebentar dan sementara: pendar di permukaan air yang mungkin hendak mengabarkan kedalaman. Aku sendiri tak begitu pasti memahami apa yang tersembunyi di lubuk kolam itu. Sejauh ini hanya menduga-duga. Bersandar pada bahasa untuk mengerti atau mengucapkan sesuatu kepadamu, tetapi bahasa tak pernah terasa lengkap sebagaimana pengetahuan yang bekerja pada diriku. Semua yang kau baca dalam buku ini hanyalah sebentuk usahaku yang kemudian mungkin akan berubah menjadi empatimu untuk mengenali “puisi” itu; pendar air di permukaan kolam itu. –Iswadi Pratama

Kolase Hujan (Cerpen Pilihan Riau Pos 2009): Hary B Kori’un, ed


Judul : Kolase Hujan (Cerpen Pilihan Riau Pos 2009)
Penulis : Hary B Kori’un, ed
Penerbit/Tahun : Yayasan Sagang
Halaman : -
Kategori : Cerpen
Harga : 30.000

Lalu, bagaimana dengan cerpen? Sebenarnya Riau juga tak pernah kekeringan penulis prosa pendek ini. Setelah generasi M Kasim dan Soeman Hs, Ediruslan Pe Amanriza, Taufik Ikram Jamil, Kazzani Ks, Sutrianto, Fakhrunnas MA Jabbar, Mostamir Thalib, Olyrinson, Abel Tasman, Marhalim Zaini, Murparsaulian, Hang Kafrawi hingga ke generasi lebih muda secara usia seperti Pandapotan MT Siallagan, Sobirin Zaini, M Badri, Ellyzan Katan dan yang lainnya, dunia cerpen Riau tak pernah berhenti berdetak. Hanya saja, tak banyak memang yang berani (berhasil?) menembus ketatnya persaingan dunia cerpen tingkat nasional. Setelah Taufik Ikram Jamil dan Fakhrunnas yang mampu menembus belantara cerpen Indonesia memang muncul Olyrinson dan Marhalim, dan belakangan M Badri dan Pandapotan juga menyusul, tetapi setelah itu seperti muncul stagnasi. Selain mereka, tak ada lagi karya-karya cerpenis Riau yang mampu menembus belantara cerpen Indonesia, baik berupa munculnya buku kumpulan cerpen dengan tingkat distribusi yang luas (bukan hanya dicetak seadanya dan didistribusikan tak jelas), maupun cerpen-cerpen yang dimuat di media massa dengan cakupan pembaca lebih luas, yang dalam hal ini tentu media nasional. –Harry B Kori’un, Editor

Karena Saya Ingin Berlari: Kadek Sonia Piscayanti


Judul : Karena Saya Ingin Berlari
Penulis : Kadek Sonia Piscayanti
Penerbit/Tahun : Akar
Halaman : -
Kategori : Cerpen
Harga : 30.000

Tak pernah saya bayangkan sebelumnya, akan ada wanita penulis Bali yang mampu berbicara lantang. Bahkan penulis-penulis pria pun, tanpa mengurangi hormat saya pada mereka, nampaknya jinak-jinak saja—kata lain dari santun—sampai menyeruak sosok seperti Oka Rusmini, dan sekarang generasi terkini: Kadek Sonia Piscayanti.

“Karena Saya Ingin Berlari”, sangat pasih, dengan ucapan yang hidup. Sesuatu yang tak dengan sendirinya dimiliki oleh setiap pengarang. Ada pengamatan psikologis yang kemudian dipakai sebagai basis untuk menuturkan cerita. Bukan hanya cerpen, tetapi itu sudah jadi monolog. Itu kelebihan. Ia berada di antara wilayah prosa dan puisi. Tak mau menuturkan apa adanya mengambil jarak estetis sehingga begitu perlu bicara mendetail. Ia hanya menyampaikan persoalan batinnya, sehingga ceritanya lebih dekat pada esei, bukan reportase. Itu adalah pilihan. –Putu Wijaya