Sabtu, 12 Oktober 2013

Oto-Puisi (Rumah Lebah Ruang Puisi 03): Faisal Kamandobat, Afrizal Malna, dkk.


Judul : Oto-Puisi (Rumah Lebah Ruang Puisi 03)
Penulis : Faisal Kamandobat, Afrizal Malna, dkk.
Penerbit/Tahun : Frame Publishing
Halaman : -
Kategori : Puisi
Harga : 42.000

Fahmi Faqih – Dea Anugrah – Riki Damparan Putra – Sarabunis Mubarok – Faisal Kamandobat - A. Hamzah Fansuri B – Resthu Ashari Putra – Dwi S. Wibowo – Abu Mufakhir – Afrizal Malna – Tjahjono Widijanto – Michelle Yeh (Penerjemah: BambangAgung) – Nazik Almalaikah
(Penerjemah: Ahmad Athoillah dan Irfan Zakki Ibrahim) – Fadwa Tuqan (Penerjemah: Irfan Zakki Ibrahim) – Janus Pannonius (Penerjemah: Zaim Rofiqi)

Pesta Hujan di Mata Shinta: Iqbal Baraas

Judul : Pesta Hujan di Mata Shinta
Penulis : Iqbal Baraas
Penerbit/Tahun : Frame Publishing
Halaman : -
Kategori : Cerpen
Harga : 22.000

Namaku Yonda. Tapi tak begitu penting. Tak perlu diingat-ingat, nama pasaran. Nama yang bisa ditemukan di mana saja. Nama yang banyak ditemukan di pasar. Tak beda dengan merek minuman, semacam cola atau makanan semacam snack.

Tuan punya hak memanggilku dengan nama apa saja. Kubebaskan Tuan mengganti namaku setiap saat dengan nama apa pun saja. Mungkin menggantinya dengan nama anjing Tuan Si Melly, atau Bruno, atau nama kucing Tuan Si Manis atau Si Kliwon. Atau Tuan boleh memanggilku Ponyku sayang, Balonku sayang, atau apapun saja. Yang penting Tuan merasa puas. Dan jangan pernah lupakan saya. Ingatlah akan jam malamku. Jam kerjaku. Jam di mana tiap perahu akan ditambatkan. Jam di mana bulan dan bintang Cuma saling berkedipan, dan saling menggesekkan kesepiannya. Juga jangan lupa, ingatlah terus di tiap menjelang tidur Tuan sisa lipstik yang sengaja kutempelkan di gelas minuman Tuan. Tapi jangan Tuan curiga bila lipstikku tersisa di kemeja Tuan. Bukan aku ingin membuat isteri Tuan marah dan membut mereka memotong kemaluan Tuan atau barangkali kekasih Tuan yang lain akan menganggap Tuan selingkuh. Jangan Tuan curiga. Kenanglah saja, karena bila tuan mengenangku maka sekujur bulu romaku akan memanggil-manggil tuan kembali. Kenanglah aku, Tuan—Yonda!

(Yonda, Iqbal Baraas)

Penyair Cakrawala Sastra Indonesia (menguak negeri air mata): Sapardi Djoko Damono, dkk.


Judul : Penyair Cakrawala Sastra Indonesia (menguak negeri air mata)
Penulis : Sapardi Djoko Damono, dkk.
Penerbit/Tahun : Akar
Halaman : -
Kategori : Esai
Harga : 40.000

Sebuah kajian lengkap tentang sastra Melayu (khususnya puisi), dari mereka-mereka yang ahli di bidangnya. Kepulauan Riau, sebagai “ibu bahasa” yang melahirkan bahasa Indonesia, menyimpan berbagai persoalan menarik yang selama ini tidak begitu banyak diperbincangkan. Puisi-puisi Abdul Kadir Ibrahim, pada buku ini menjadi penghubung dalam pembahasan-pembahasan tentang tema Melayu, dari mulai struktur hingga muatan budaya, dan pengaruhnya terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia. Inilah suara dari para kritikus, akademisi, sastrawan, serta pengamat budaya, yang bisa menjadi referensi berharga dari berbagai kalangan yang ingin mengetahui lebih jauh tentang sastra dan pengaruhnya terhadap kebudayaan Melayu.


Para Penulis:

Sapardi Djoko Damono—Maman S. Mahayana—Taufiq Ismail—Korrie Layun Rampan—Hamsad Rangkuti—Sutardji Calzoum Bachri—Jose Rizal Manua—Ahmadun Yosi Herfanda—Drs. UU. Hamidy, MA—Drs. Muchid Albintani, M, Phil—Dr. Ahmad Badrun—Prof. Dr. Hasanuddin WS—Drs. H. Abdul Malik, M.Pd—Drs. Iwan Djamaluddin—Maswito, S.Pd—Drs. H. Abdul Mannan AR

Peta dan Arah Sastra (Esai Pilihan Riau Pos 2011): Hary B Kori’un, ed.


Judul : Peta dan Arah Sastra (Esai Pilihan Riau Pos 2011)
Penulis : Hary B Kori’un, ed.
Penerbit/Tahun : Yayasan Sagang
Halaman : -
Kategori : Esai
Harga : 40.000

Bahasa adalah rumah, tanah air para penyair. Di sinilah dia lahir dan dibesarkan. Di sinilah dia tumbuh dan berkembang. Dari sinilah kemudian dia mengembara untuk memberi makna kehidupannya, sebelum pada akhirnya pulang kembali ke rumah keabadiannya. Bahasa adalah jati diri penyair. Karenanya, penyair yang kehilangan bahasanya, akan kehilangan segalanya. Kehilangan jati diri. “Yang tak berumah takkan menegakkan tiang,” begitu kata salah satu bait puisi penyair Rainer Maria Rielke “Di Batu Penghabisan ke Huesca” yang diterjemahkan Goenawan Mohammad, salah satu penyair besar Indonesia.

Karena itu pula, salah satu tugas penting seorang penyair adalah memelihara, memperkaya, dan mempertahankan bahasanya. Karena itu adalah perjuangan menegakkan jati dirinya. Apalagi, sekarang ini pada kenyataannya, bahasa adalah salah satu benteng terakhir nasionalisme yang masih bisa bertahan di tengah gempuran globalisasi dan kemajuan tekhnologi informasi. Fungsi, peran, dan posisi bahasa yang demikian ini, sejak dahulu sudah dilakukan boleh bahasa Melayu, baik sebagai bahasa ibu, maupun sebagai bahasa yang menjadi teras bahasa nasional Indonesia. Dan tetap kukuh sampai saat ini, sebagaimana kukuhnya jati diri para penyair Melayu. –Rida K Liamsi

Masegit: Shohifur Ridho Ilahir


Judul : Masegit
Penulis : Shohifur Ridho Ilahir
Penerbit/Tahun : Kendi Aksara/2013
Halaman : -
Kategori : Puisi
Harga : 20.000

seandainya saya baru saja dari toko yang menjual beragam kenangan, mungkin saya beli sepotong bulan ungu, sekotak tisu dan sedikit keju. barangkali pertempuran bisa dilakukan di atas meja makan sambil menonton berita-berita kriminal dari televisi dan diskusi tentang apakah kita perlu mengganti televisi warna menjadi hitam putih?

(maulidiyah)

saya ingin di setiap jalan ada bulan dan hujan. tapi jalan selalu bercabang dan tak setiap jalan menyimpan kunang-kunang. sementara bulan biasanya menguluk salam meski tak ada pintu meski tak ada ibu. tak sampai bulan datang, hujan sudah berdiri dan menggantung bajunya di paku balik pintu. saya lekas membuatkan kopi untuknya karena hari sebentar lagi mati.

(pakotan)

Penembak Misterius: Seno Gumira Ajidarma


Judul : Penembak Misterius
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit/Tahun : Galang Press
Halaman : -
Kategori : Cerpen
Harga : 25.000

Ketika isu “petrus” hendak dihapus dari memori masyarakat, trilogi ini hadir di tengah-tengah publik. Oleh karena itu, betapa sangat berharganya trilogi ini. Ia tidak hanya dapat dipandang sebagai dokumen sejarah, tetapi juga gugatan terhadap sejarah itu sendiri.

Daya gugat trilogi ini sangat dalam dan luas. Ia bukan hanya menggugat dampak serius dari “petrus”, tetapi juga sistem (kekuasaan) yang menghasilkan “petrus” itu sendiri, yakni “militerisme”. –Budiawan

Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi: Seno Gumira Ajidarma


Judul : Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit/Tahun : Galang Press/2006
Halaman : 220
Kategori : Cerpen
Harga : 20.000

Bagaimana jika Anda dilarang menyanyi di kamar mandi dengan alasan suara anda menimbulkan imajinasi yang meresahkan masyarakat Republik ini? Relakah Anda dilarang menyanyi di kamar mandi hanya karena imajinasi telah membuat banyak orang tidak tahu diri? Sudikah nasib Anda ditentukan oleh orang banyak tanpa alasan yang masuk akal tentang suara nyanyian Anda setiap kali mandi? Mungkinkah Anda hidup dalam masyarakat yang mungkin saja suatu ketika melarang Anda menyanyi di kamar mandi?

Dilarang menyanyi di kamar mandi kisah perempuan yang bersuara sexy kini di persembahkan dalam dua versi